oleh : Hepi Andi Bastoni
Laporan itu sudah sering didengar Umar. Laporan tentang kinerja gubernur Kufah, Ammar bin Yasir. Tak mau berlama-lama karena khawatir muncul fitnah, Umar bin Khaththab segera memanggil sang gubernur.
Dari laporan yang ia terima, Umar mendapat kabar bahwa sang gubernur tidak mengerti tugasnya sebagai kepala pemerintahan daerah. Ammar dianggap warganya tidak memahami seluk beluk wilayah Kufah dan sekitarnya.
Ketika Ammar datang menghadap, Umar segera mengklarifikasi keluhan masyarakat tersebut. Kepada Ammar, sang Khalifah menanyakan letak beberapa kota yang berdekatan dengan Kufah. Lantaran jawabannya tidak memuaskan, Ammar pun terpaksa meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Kufah. Bagi Umar, pengetahuan tentang suatu daerah bagi seorang pemimpin amatlah penting. Bagaimana ia bisa menentukan kebijakan kalau kondisi dan letak wilayah kepemimpinannya tak ia pahami.
Pada kisah yang dipaparkan oleh Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Abqariyatu Umar (Kejeniusan Umar) ini, terdapat pelajaran menarik. Umar juga telah memberikan pelajaran bagaimana mengambil keputusan. Ia tahu persis tingkat keshalihan dan posisi Ammar bin Yasir di kalangan para sahabat Nabi saw. Ammar bin Yasir merupakan sahabat Rasulullah saw yang begitu dekat dengan beliau. Ammarlah yang pertama kali "menyumbangkan" kedua orang tuanya Sumayyah dan Yasir untuk Islam. Kedua orang tuanya gugur menjemput syahid di tangan kafir Quraisy dalam rangka mempertahankan keimanannya.
Rasulullah pun telah menjanjikan surga kepada Yasir dan keluarganya termasuk Ammar. Kemuliaan sahabat Nabi saw yang “menyumbangkan” telinganya pada Perang Yamamah ini sehingga ketika terjadi perselisihan antara Khalid bin Walid dan dirinya, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah. Siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah!"
Maka, tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid selain segera mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf.
Selain itu, sahabat Nabi yang bertubuh tinggi dengan bahu yang bidang dan bermatanya biru ini adalah sosok yang zuhud dan amat pendiam. Ia tak suka bicara kecuali hal yang penting.
Ibnu Abi Hudzail pernah mengatakan, “Saya melihat Ammar bin Yasir sewaktu menjadi Gubernur Kufah, membeli sayuran di pasar. Ia mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung, lalu membawanya pulang.”
Namun demikian, dengan segala kelebihannya itu, Umar tidak segan-segan memberhentikannya dari jabatan gubernur. Bagi Umar, jabatan bukanlah anugerah, tapi amanah. Umarlah yang menunjuk Ammar untuk menjabat Gubernur Kufah. Maka, kalau terjadi apa-apa, dia juga bertanggung jawab.
Ini pelajaran berharga bagi para pemimpin. Bahwa, sikap tegas dan berani bertindak harus dilakukan apa pun kondisinya. Kalau lantaran Ammar tak menguasai wilayah kepemimpinannya, Umar berani memberhentikannya, apalagi kalau mereka yang cacat moral, tidak profesional dan abai terhadap aturan yang telah ditetapkan. Merupakan hak seorang pemimpin untuk menindak anak buahnya yang tak layak memegang jabatan.
Di sisi lain, keberanian Umar menindak Gubernur Ammar dilandasi oleh kinerjanya dan kemampuannya sendiri. Ia berani memberhentikan Ammar karena Umar sendiri punya kemampuan luar biasa. Karenanya, tidak benar jika ada yang mengatakan, Umar tak menguasai pengetahuan yang dapat menunjang kepemimpinannya menangani wilayah kedaulatan Islam.
Sebagaimana juga tidak benar kalau ada yang mengatakan Umar tak memahami perhitungan matematis. Di masa Jahiliyah, Umar adalah seorang pedagang. Ia pun sudah terbiasa mengutus pasukan perang dengan perhitungan secara matematika dengan baik. Salah satu buktinya, dipaparkan oleh Abbas Mahmud al-Aqqad ini terjadi saat Abu Hurairah membawa harta rampasan perang dari Hajar dan Bahrain.
“Berapa harta yang kau bawa?” tanya Umar.
“Lima ratus ribu dirham,” jawab Abu Hurairah.
“Apakah engkau tahu jumlah sebesar itu?” tanya Umar.
“Seratus ribu ditambah seratus ribu sampai lima kali,” jawab Abu Hurairah mantap.
“Kau mengantuk. Sebaiknya engkau pulang dulu, besok kembali lagi ke sini,” tandas Umar.
Kisah tersebut oleh sebagian kalangan yang ingin membuat citra buruk Umar digunakan sebagai legimitasi bahwa sang Khalifah tak mengerti hitungan-hitungan. Padahal, sejak diangkat menjadi khalifah, Umar senantiasa melakukan perhitungan cermat mengenai jumlah tentara dan harta kaum Muslimin. Ungkapannya kepada Abu Hurairah dalam dialog di atas adalah ucapan syukur betapa besarnya harta rampasan perang yang mereka peroleh.
Pada diri Umar benar-benar terangkum dua pribadi yang berlawanan. Di satu sisi Umar dikenal dengan ketegasannya dan keberaniannya, yang juga ditunjang oleh kekuatan fisiknya. Hal ini tak mengherankan karena sejak kecil ia senang dengan beragam olahraga. Ia gemar melakukan gulat dan pacuan kuda.
Dalam suratnya kepada para gubernur, Umar pernah menyarankan mereka agar memasyarakatkan olahraga. “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian berenang dan menunjukkan sikap jantan. Tunjukkan pula teladan yang baik melalui kata-kata indah. Kekuatan tidak akan melemah selama kita masih menempa diri dengan berolahraga, baik memanah, pacuan kuda tanpa pelana, maupun olahraga lain,” ujar Umar dalam suratnya.
Di satu sisi, dalam diri Umar tumbuh cinta kasih dan sayang. Hal ini disebabkan lantaran Umar dikenal sebagai sosok yang mengagumi keindahan dan seni. Ketika berpidato, pengucapan kata-katanya sangat jelas, jernih dan mudah dipahami. Pilihan kalimatnya penuh dengan kata-kata indah. Suaranya yang tenor mampu mengeluarkan vokal yang jernih dan indah.
Kepiawaian Umar bin Khaththab merangkai kata-kata indah, diakui banyak orang. Namun untuk menyebut Umar sebagai penyair, mereka berbeda pendapat. Asy-Sya’bi pernah berkomentar, “Umar adalah seorang penyair.”
Namun dengan segenap tawadhu, Umar menyangkal kalau dirinya penyair. “Seandainya aku seorang penyair, akan kurangkai kata-kata puitis tentang kematian saudaraku, Zaid bin Khaththab,” ujar Umar.
Tapi di sisi lain, Umar menyadari kepandaiannya berorasi. “Andai aku bukan khalifah, mungkin aku menjadi ahli pidato,” ungkap Umar.
Dua sisi berlawanan inilah yang melekat pada diri Umar dan menjadi modalnya menjalankan amanah.
Tampilkan postingan dengan label siroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label siroh. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 Februari 2010
Membendung Stigma
oleh : Asep sobari
Ketakutan akan terberangusnya berbagai kepentingan bukan satu-satunya alasan yang mendorong pihak yang ‘kuat’ dan berkuasa untuk melancarkan stigma kepada lawan. Stigma juga dipicu faktor lain yang sangat mendasar, yaitu kelemahan. Bukan kelemahan kedudukan dan infra-struktur, karena mereka berkuasa, tapi kelemahan argumentasi.
Stigma dilancarkan oleh mereka yang miskin ideologi dan pemikiran. Mereka menganut nilai-nilai hidup yang rapuh dan usang, sehingga sudah selayaknya disimpan sebagai tambahan koleksi museum-museum peradaban. Kelemahan inilah yang membuat mereka tidak sanggup bertahan dari gempuran pemikiran-pemikiran segar nan dinamis yang dibangun di atas ideologi dan nilai-nilai hidup yang kokoh. Tapi, sekali lagi, mereka berkuasa dan mengendalikan struktur, sehingga segera menutupi kelemahan itu dengan stigma yang tidak jarang berujung kekerasan.
Simak dialog Musa as dengan Fir`aun yang dituturkan cukup detail dalam surah asy-Syu`ara’, mulai ayat 16 dan seterusnya. Dengan tegar, Musa memaparkan konsep ketuhanan yang diterimanaya dari wahyu untuk membungkam klaim ketuhanan Fir`aun. Musa juga mendobrak keangkuhan Fir`aun yang enggan mengakui kezalimannya terhadap rakyat banyak dari Bani Israil hanya karena merasa telah ‘berbaik hati’ mengasuh Musa hingga dewasa di dalam istana. Fir`aun jelas tersudut. Tapi, bukan argumentasi bantahan yang muncul dari mulutnya, melainkan stigma, “Dia benar-benar sinting!” (QS asy-Syu`ara’: 27). Dan ketika Musa menunjukkan bukti-bukti kerasulannya yang tidak terbantahkan, Fir`aun semakin kalang kabut, “Dia benar-benar ahli sihir!” (QS asy-Syu`ara’: 34).
Di masa Rasulullah saw, Quraisy melakukan hal yang sama. Quraisy tidak pernah sanggup membantah kewahyuan al-Qur’an. Bahkan pengakuan yang beredar di antara sesama mereka menunjukkan sebaliknya, “Demi Allah, aku mendengar sesuatu yang tiada tandingnya. Demi Allah, ia bukan puisi, bukan sihir dan bukan pula mantera dukun!” kata Utbah bin Rabi`ah. Kalimat yang mirip juga dinyatakan Walid bin Mughirah. Uniknya, musuh terbesar Islam kala itu, Abu Jahal bin Hisyam tidak dapat menyembunyikan ketertarikannya pada al-Qur’an. Abu Jahal beberapa kali mengendap-endap di malam hari dekat rumah Rasulullah untuk mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang dibacanya. Demikian penuturan Ibnu Ishaq dalam as-Sirah dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah.
Stigma miring jelas membuat Rasulullah saw dan para sahabat tersudutkan. Mereka menjadi tertuduh dan ruang gerak dakwah semakin sempit. Lantas, apa yang dilakukan generasi awal itu untuk membendung badai stigma yang menghantam mereka? Jika mencermati literatur-literatur sirah, maka akan didapati kenyataan yang sangat menarik. Untuk mematahkan stigma tersebut, Rasulullah tidak banyak mengumbar pernyataan-pernyataan verbal, tapi menempuh upaya-upaya konkret yang membuktikan kebenaran Islam.
Selama fase awal gerakan dakwah di Makkah, perhatian Rasulullah lebih terfokus pembinaan para sahabat dengan menanamkan nilai-nilai dan pandangan hidup Islam, setelah membersihkan (tazkiyah) mereka dari pandangan hidup jahiliyah. Inilah proses yang disebut Jaudat Sa`id dalam Hatta yughayyiru ma bi-anfusihim sebagai taghyir ma bil anfus atau perubahan pemikiran dan keyakinan, yang mendasari perubahan karakter dan perilaku.
Tampaknya, Rasulullah memandang tahap ini sangat fundamental dan menentukan. Bagaimana tidak, inilah tahap pembibitan yang akan melahirkan model ideal masyarakat Muslim sepanjang masa, as-sabiqunal awwalun. Untuk itu, Rasulullah mengiringinya dengan langkah-langkah yang sangat ketat; para sahabat tidak diizinkan menyatakan keislamannya secara terbuka, membuat pusat dakwah tertutup (Darul Arqam), dan menghindari benturan fisik dengan Quraisy.
Ini berarti, yang dilakukan Rasulullah saw kala itu adalah melahirkan masyarakat Muslim yang sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai dan ajaran Islam, sehingga stigma dan tudingan miring yang dilancarkan Quraisy tidak mendapatkan pembenaran sedikit pun. Kaum Muslim menjadi hujjah (argumentasi) kebenaran Islam yang dengan mudah dapat dilihat dan dirasakan oleh siapa pun.
Memang, pencapaian ini tidak akan serta merta meluluhkan arogansi orang-orang semisal Abu Jahal, Uqbah bin Abi Mu`aith, Umayyah bin Khalaf dan lain-lain. Tapi, di luar sana banyak potensi yang sebenarnya jauh lebih besar dan menentukan di masa akan datang seperti Hamzah, Umar bin Khathtab, Thufail bin Amr yang melihat stigma hanyalah ilusi dan senjata orang yang lemah.
Ketakutan akan terberangusnya berbagai kepentingan bukan satu-satunya alasan yang mendorong pihak yang ‘kuat’ dan berkuasa untuk melancarkan stigma kepada lawan. Stigma juga dipicu faktor lain yang sangat mendasar, yaitu kelemahan. Bukan kelemahan kedudukan dan infra-struktur, karena mereka berkuasa, tapi kelemahan argumentasi.
Stigma dilancarkan oleh mereka yang miskin ideologi dan pemikiran. Mereka menganut nilai-nilai hidup yang rapuh dan usang, sehingga sudah selayaknya disimpan sebagai tambahan koleksi museum-museum peradaban. Kelemahan inilah yang membuat mereka tidak sanggup bertahan dari gempuran pemikiran-pemikiran segar nan dinamis yang dibangun di atas ideologi dan nilai-nilai hidup yang kokoh. Tapi, sekali lagi, mereka berkuasa dan mengendalikan struktur, sehingga segera menutupi kelemahan itu dengan stigma yang tidak jarang berujung kekerasan.
Simak dialog Musa as dengan Fir`aun yang dituturkan cukup detail dalam surah asy-Syu`ara’, mulai ayat 16 dan seterusnya. Dengan tegar, Musa memaparkan konsep ketuhanan yang diterimanaya dari wahyu untuk membungkam klaim ketuhanan Fir`aun. Musa juga mendobrak keangkuhan Fir`aun yang enggan mengakui kezalimannya terhadap rakyat banyak dari Bani Israil hanya karena merasa telah ‘berbaik hati’ mengasuh Musa hingga dewasa di dalam istana. Fir`aun jelas tersudut. Tapi, bukan argumentasi bantahan yang muncul dari mulutnya, melainkan stigma, “Dia benar-benar sinting!” (QS asy-Syu`ara’: 27). Dan ketika Musa menunjukkan bukti-bukti kerasulannya yang tidak terbantahkan, Fir`aun semakin kalang kabut, “Dia benar-benar ahli sihir!” (QS asy-Syu`ara’: 34).
Di masa Rasulullah saw, Quraisy melakukan hal yang sama. Quraisy tidak pernah sanggup membantah kewahyuan al-Qur’an. Bahkan pengakuan yang beredar di antara sesama mereka menunjukkan sebaliknya, “Demi Allah, aku mendengar sesuatu yang tiada tandingnya. Demi Allah, ia bukan puisi, bukan sihir dan bukan pula mantera dukun!” kata Utbah bin Rabi`ah. Kalimat yang mirip juga dinyatakan Walid bin Mughirah. Uniknya, musuh terbesar Islam kala itu, Abu Jahal bin Hisyam tidak dapat menyembunyikan ketertarikannya pada al-Qur’an. Abu Jahal beberapa kali mengendap-endap di malam hari dekat rumah Rasulullah untuk mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang dibacanya. Demikian penuturan Ibnu Ishaq dalam as-Sirah dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah.
Stigma miring jelas membuat Rasulullah saw dan para sahabat tersudutkan. Mereka menjadi tertuduh dan ruang gerak dakwah semakin sempit. Lantas, apa yang dilakukan generasi awal itu untuk membendung badai stigma yang menghantam mereka? Jika mencermati literatur-literatur sirah, maka akan didapati kenyataan yang sangat menarik. Untuk mematahkan stigma tersebut, Rasulullah tidak banyak mengumbar pernyataan-pernyataan verbal, tapi menempuh upaya-upaya konkret yang membuktikan kebenaran Islam.
Selama fase awal gerakan dakwah di Makkah, perhatian Rasulullah lebih terfokus pembinaan para sahabat dengan menanamkan nilai-nilai dan pandangan hidup Islam, setelah membersihkan (tazkiyah) mereka dari pandangan hidup jahiliyah. Inilah proses yang disebut Jaudat Sa`id dalam Hatta yughayyiru ma bi-anfusihim sebagai taghyir ma bil anfus atau perubahan pemikiran dan keyakinan, yang mendasari perubahan karakter dan perilaku.
Tampaknya, Rasulullah memandang tahap ini sangat fundamental dan menentukan. Bagaimana tidak, inilah tahap pembibitan yang akan melahirkan model ideal masyarakat Muslim sepanjang masa, as-sabiqunal awwalun. Untuk itu, Rasulullah mengiringinya dengan langkah-langkah yang sangat ketat; para sahabat tidak diizinkan menyatakan keislamannya secara terbuka, membuat pusat dakwah tertutup (Darul Arqam), dan menghindari benturan fisik dengan Quraisy.
Ini berarti, yang dilakukan Rasulullah saw kala itu adalah melahirkan masyarakat Muslim yang sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai dan ajaran Islam, sehingga stigma dan tudingan miring yang dilancarkan Quraisy tidak mendapatkan pembenaran sedikit pun. Kaum Muslim menjadi hujjah (argumentasi) kebenaran Islam yang dengan mudah dapat dilihat dan dirasakan oleh siapa pun.
Memang, pencapaian ini tidak akan serta merta meluluhkan arogansi orang-orang semisal Abu Jahal, Uqbah bin Abi Mu`aith, Umayyah bin Khalaf dan lain-lain. Tapi, di luar sana banyak potensi yang sebenarnya jauh lebih besar dan menentukan di masa akan datang seperti Hamzah, Umar bin Khathtab, Thufail bin Amr yang melihat stigma hanyalah ilusi dan senjata orang yang lemah.
Langganan:
Postingan (Atom)