Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Maret 2010

Mu'jizat yang menantang !!

“sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya kami benar-benar pasti memeliharanya.” ( Al hijr 9 )


Keterjagaan orisinalitas adalah nilai paling mahal bagi sebuah karya manusia, apatah lagi kalamullah, pedoman hidup sepanjang zaman yang memang terjaga sepanjang zaman.

Ia diriwayatkan mutawatir , melalui banyak sekali jalur, sejak zaman Rasulullah. Beribu-ribu otak merekamnya, sampai detil huruf dan tanda baca. Jangan tanyakan apakah ada kitab “suci” lain yang bisa dihafal di luar kepala. Al Qur’an takkan tertandingi karena yang tak tahu artinya pun bisa menghafal banyak bagiannya tanpa celah. Malang nian orang yang berusaha memalsukannya. Kehilangan sebuah alif saja  dalam satu cetakan , pasti para pembacanya akan protes !!

Ada jutaan lisan yang menghafalnya  tiap hari . Lagi, ini bukti keunggulannya. Ia bisa diselesaikan lengkap 30 juz dalam satu rakaat shalat malam seperti yang dilakukan Tamim ibn Aus Ad Dariy. Ia bisa selesai dibaca lengkap dalam satu hari seperti salaful ummah melalui hari-hari Ramadhannya. Tiga hari, tujuh hari, dan sebulan adalah jenjang-jenjang yang lebih mulia untuk waktu pengkhatamannya.

Kalau dihitung-hitung, buku best seller yang paling the best tak ada yang mencapai seujung kuku jumlah pencetakkan dan penjualan Al Qur’an. Sebergengsi apapun Guinnes book, belum layak baginya untuk mencantumkan rekor agung ini.

Dengan standar bahasa Arab yang jelas , segala salinan dan terjemahan dapat dikoreksi. Terjamin sudah otentitasnya dan jadilah Al Qur’an pembawa peringatan sepanjang zaman.


“dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar Ruh Al Amin- Jibril- ke dalam hatimu- Muhammad- agar kamu menjadi salah satu di antara para pemberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas. “ ( Asy syu’ara 192-195 )


Tantangan Al Qur’an


“….Andaikan ( kamu pernah membaca dan menulis ), niscaya benar- benar ragulah orang yang mengingkarinya ! “ ( Al ‘Ankabut 48 )


Sebagai bukti kebenaran Al Qur’an, Allah berkehendak menurunkannya kepada seorang yang ummi  ( tak mengerti baca tulis ). Melihat ini saja sudah cukup bukti kiranya. Tetapi Allah tetap menantang para hambaNya yang mendustakan untuk membuat yang serupa Al Qur’an.


“katakanlah, “jika sekiranya manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan pernah dapat membuat yang serupa dia, sekalipun sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain. “ ( Al Isra’ 81 )


Kalaupun tantangan itu lebih ringan , maka benarkah mereka mampu menghasilkan sepuluh surat saja yang semisalnya ?


“katakanlah, “ ( kalau demikian ), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat untuk menyamainya, dan panggilahn orang-orang yang kalian sanggupi selain Allah, jika kalian memang orang-orang yang benar-benar”. Jika mereka yang kalian seru tidak menerima seruan kalian maka ketahuilah Al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah.” (Hud 13-14 )


Meski mereka tak bisa membuatnya , tapi hati yang penuh keraguan itu masih saja berusaha menentangnya. Maka inilah tantangan terakhir sekaligus ancaman untuk mereka,


“ dan jika kalian tetap dalam keraguan tentang Al Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami, buatlah satu surat saja yang semisalnya dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kalian memang orang-orang yang benar. Maka jika kalian tidak dapat membuatnya , dan pasti kalian tidak akan pernah bisa membuatnya, peliharalah diri kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi orang-orang yang kafir” ( Al Baqarah 23-24 )



Adakah kau bayangkan seorang mengkaji firman tanpa iman ? tanpa ada getar di hati ketika mendengar, tanpa gemetar kulit ketika makna –makna tersingkap….adakah ??

disadur dari buku "saksikan bahwa Aku seorang Muslim" ( Salim a. fillah )

Jumat, 05 Maret 2010

Dimanakah kata itu saat ini ??..

getir, dingin, syahdu....begitulah suasana jum'at kali ini. ketika suasana di luar hujan, suara petir bersahut-sahutan, namun di dalam masjid kurasakan suasana yang syahdu, untaian hikmah yang disampaikan khatib jum'at sungguh membuat hatiku getir,,"zikrul maut" itulah tema jum'at kali ini...

"maut.." dimanakah kata itu saat ini ??..

seberapa akrabkah aku dengannya..seberapa ingatkah aku dengan kata itu..??


apa karena umurku masih terlalu muda untuk memikirkan kata itu,

apa karena  jasadku masih terlalu sehat, tak ada tanda-tanda maut menghampiriku ?

apa karena aku sudah terlalu mencintai dunia, dan dunia itu sudah sedemikian merasuknya ke dalam jiwaku sehingga tidak menyisahkan ruang sedikit pun buat satu kata itu, maut !

padahal, setiap detik, setiap menit, setiap hari....kita selalu diawasi dengan kata itu. 

maut yang selalu menghampiri kita kapan saja, dimana saja..

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al-Ankabut [29]: 57).

 

 tidak pernahkah aku menghayati ayat di atas...


"orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan diri untuk kematian.."


jum'at, 05 maret 2010-masjid miftahul jannah.....hingga rasa getir itu menghampiriku..


Aqil El banna, "yang selalu diawasi maut"


Kamis, 11 Februari 2010

YAKINLAH, DAN PEJAMKAN MATA!

iman adalah mata yang terbuka,
mendahului datangnya cahaya
tapi jika terlalu silau, pejamkan saja
lalu rasakan hangatnya keajaiban

Saya tertakjub membaca kisah ini; bahwa Sang Nabi hari itu berdoa.

Di padang Badr yang tandus dan kering, semak durinya yang memerah dan langitnya yang cerah, sesaat kesunyian mendesing. Dua pasukan telah berhadapan. Tak imbang memang. Yang pelik, sebagian mereka terikat oleh darah, namun terpisah oleh ‘aqidah. Dan mereka tahu inilah hari furqan; hari terpisahnya kebenaran dan kebathilan. Ini hari penentuan akankah keberwujudan mereka berlanjut.

Doa itulah yang mencenungkan saya. “Ya Allah”, lirihnya dengan mata kaca, “Jika Kau biarkan pasukan ini binasa, Kau takkan disembah lagi di bumi! Ya Allah, kecuali jika Kau memang menghendaki untuk tak lagi disembah di bumi!” Gemetar bahu itu oleh isaknya, dan selendang di pundaknya pun luruh seiring gigil yang menyesakkan.

Andai boleh lancang, saya menyebutnya doa yang mengancam. Dan Abu Bakr, lelaki dengan iman tanpa retak itu punya kalimat yang jauh lebih santun untuk menggambarkan perasaan saya. “Sudahlah Ya Rasulallah”, bisiknya sambil mengalungkan kembali selendang Sang Nabi, “Demi Allah, Dia takkan pernah mengingkari janjiNya padamu!”

Doa itu telah menerbitkan sejuta tanya di hati saya. Ringkasnya; mengapa begitu bunyinya? Tetapi kemudian, saya membaca lagi dengan sama takjubnya pinta Ibrahim, kekasih Allah itu. “Tunjukkan padaku duhai Rabbi, bagaimana Kau hidupkan yang mati!”, begitu katanya. Ah ya.. Saya menangkap getar yang sama. Saya menangkap nada yang serupa. Itu iman. Itu iman yang gelisah.

Entah mengapa, para peyakin sejati justru selalu menyisakan ruang di hatinya untuk bertanya, atau menagih. Mungkin saja itu bagian dari sisi manusiawi mereka. Atau mungkin justru, itu untuk membedakan iman mereka yang suci dari hawa nafsu yang dicarikan pembenaran. Untuk membedakan keyakinan mereka yang menghunjam dari kepercayaan yang bulat namun tanpa pijakan.

Kita tahu, di Badr hari itu, Abu Jahl juga berdoa. Dengan kuda perkasanya, dengan mata menantangnya, dengan suara lantangnya, dan telunjuk yang mengacung ke langit dia berseru, “Ya Allah, jika yang dibawa Muhammad memang benar dari sisiMu, hujani saja kami dari langit dengan batu!” Berbeda dari Sang Nabi, kalimat doanya begitu bulat, utuh, dan pejal. Tak menyisakan sedikitpun ruang untuk bertanya. Dan dia lebih rela binasa daripada mengakui bahwa kebenaran ada di pihak lawan.

Itukah keyakinan yang sempurna? Bukan. Itu justru kenaïfan. Naif sekali.

Mari bedakan kedua hal ini. Yakin dan naïf. Bahwa dua manusia yang dijamin sebagai teladan terbaik oleh Al Quran memiliki keyakinan yang menghunjam dalam hati, dan keyakinan itu justru sangat manusiawi. Sementara kenaifan telah diajarkan Iblis; untuk menilai sesuatu dari asal penciptaan lalu penilaian itu menghalangi ketaatan pada PenciptaNya. Atau seperti Abu Jahl; rela binasa daripada mengakui kebenaran tak di pihaknya. Atau seperti Khawarij yang diperangi ‘Ali; selalu bicara dengan ayat-ayat suci, tapi lisan dan tangan menyakiti dan menganiaya muslim lain tanpa henti. Khawarij yang selalu berteriak, “Hukum itu hanya milik Allah!”, sekedar untuk menghalangi kaum muslimin berdamai lagi dan mengupayakan kemashlahatan yang lebih besar. Mencita-citakan tegaknya Din, memisahkan diri di Harura dari kumpulan besar muslimin, dan merasa bahwa segala masalah akan selesai dengan kalimat-kalimat. Itu naïf.

Dan beginilah kehidupan para peyakin sejati; tak hanya satu saat dalam kehidupannya, Ibrahim sebagai ayah dan suami, Rasul dan Nabi, harus mengalami pertarungan batin yang sengit. Saat ia diminta meninggalkan isteri dan anaknya berulang kali dia ditanya Hajar mengapa. Dan dia hanya terdiam, menghela nafas panjang, sembari memejamkan mata. Juga ketika dia harus menyembelih Isma’il. Siapa yang bisa meredam kemanusiaannya, kebapakannya, juga rasa sayang dan cintanya pada sesibir tulang yang dinanti dengan berpuluh tahun menghitung hari.

Dan dia memejamkan mata. Lagi-lagi memejamkan mata.

Yang dialami para peyakin sejati agaknya adalah sebuah keterhijaban akan masa depan. Mereka tak tahu apa sesudah itu. Yang mereka tahu saat ini bahwa ada perintah Ilahi untuk begini. Dan iman mereka selalu mengiang-ngiangkan satu kaidah suci, “Jika ini perintah Ilahi, Dia takkan pernah menyia-nyiakan iman dan amal kami.” Lalu mereka bertindak. Mereka padukan tekad untuk taat dengan rasa hati yang kadang masih berat. Mereka satukan keberanian melangkah dengan gelora jiwa yang bertanya-tanya.

Perpaduan itu membuat mereka memejamkan mata. Ya, memejamkan mata.

Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi. Mereka harus bersikap di tengah keterhijaban akan masa depan. Cahaya itu belum datang, atau justru terlalu menyilaukan. Tapi mereka harus mengerjakan perintahNya. Seperti Nuh harus membuat kapal, seperti Ibrahim harus menyembelih Isma’il, seperti Musa harus menghadapi Fir’aun dengan lisan gagap dan dosa membunuh, seperti Muhammad dan para sahabatnya harus mengayunkan pedang-pedang mereka pada kerabat yang terikat darah namun terpisah oleh ‘aqidah.

Para pengemban da’wah, jika ada perintahNya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada tanganNya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan padaNya jua kita akan pulang…

salim a. fillah –www.fillah.co.cc-

Kamis, 04 Februari 2010

Belajar Syahadat dari para Syuhada

oleh : Herry Nurdi

allama Mohammad Iqbal pernah berkata, “Aku beritahu kamu, tanda-tanda orang beriman. Ketika kematian datang, dia akan menyambutnya dengan senyuman.

Saya mengingat kata-kata Mohammad Iqbal ini ketika menerima dan melihat foto jenazah Mahmoud al Mabhouh. Ada luka-luka di wajahnya. Ada bekas jeratan tali yang mencekik lehernya. Bahkan hidungnya memar, mungkin juga patah. Tapi luka-luka itu semua, terkalahkan dengan sesungging senyuman yang muncul di bibirnya.

Saya tak bisa membayangkan, apa yang dialaminya pada detik-detik terakhir dengan luka-luka seperti itu. Bahkan dalam sebuah berita, saya membaca tentang bekas luka-luka akibat sengatan listrik di kepalanya. Jika dengan segala bekas luka itu, jeratan di leher, memar di hidung, sengatan listrik di kepala, bagaimana dia bisa tersenyum di penghabisan umurnya?

Bagaimana senyum itu muncul dan mengatasi segala rasa sakit yang ada? Nalar memang kerap kali tak bisa menerjemah. Termasuk tentang fenomena kecil, senyuman dibibir jenazah syuhada (insya Allah) Mahmoud al Mabhouh.

Ustadz Samson Rahman, memberikan komentar ketika foto senyum terakhir Mahmoud al Mabhouh ini saya posting ke halaman facebook saya. ”Menjadi syuhada itu karunia. Maka kuatkanlah tekad kita!”

Ustadz Samson Rahman, banyak orang mengenalnya sebagai salah satu penerjemah terbaik materi-materi dakwah dari bahasa Arab ke Indonesia. Salah satu terjemahan terbaik yang pernah disumbangkannya adalah, La Tahzan karya Dr Aidh al Qarni. Tapi tak banyak yang mengetahui bahwa Ustadz Samson Rahman yang berdarah Madura ini adalah satu dari sedikit orang yang menjadi saksi kematian Abdullah Azzam ketika dibom di Pakistan pada tahun 1989.

Bom seberat 20 kilogram itu ditanam di sebuah gang yang akan dilalui oleh asy Syahid Abdullah Azzam. Beliau meninggal, tubuhnya terlempar dan tersandar di dinding gang. Tubuh anaknya, hancur. Bahkan potongan tubuhnya tersangkut di atas tiang listrik.

Saya mendengar kisah ini bertahun-tahun silam dari Ustadz Samson Rahman. Dan ketika beliau menuliskan komentarnya di facebook, bahwa syuhada itu adalah karunia, maka pahamlah saya mengapa jenazah Mahmoud al Mabhouh menyungging senyuman.

Bagaimana tidak!? Dia sedang memperoleh anugera besar. Tentu saja, ada sebab yang membuatnya tersenyum dan melupakan penderitaan yang dirasakan badan. Seketika saya ingat salah satu kemuliaan yang direkam Allah dalam salah satu ayat-Nya:

”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 111)

Duhai, badan dan umur, nalar dan perasaan, jawablah pertanyaan yang kuajukan. Siapa yang lebih menepati janji dibanding Allah SWT? Sungguh, Allah adalah sebaik-baiknya pembuat janji. Dan dalam janji-Nya, Dia berikrar akan membela diri dan harta, setiap orang yang berjuang di jalannya dengan surga. Maka, rasa sakit manakah yang mampu menahan senyum untuk tak tersungging ketika jiwa dan harta kita dibeli dengan balasan yang sangat tinggi.

Syaikh Abdullah Azzam pernah berkata pada dirinya sendiri dan kepada anak dan istrinya. Bahwa ia telah berjanji, akan menjadikan urusan jihad sebagai urusan dalam rumah tangganya. Jihad adalah urusannya sebagai ayah. Jihad adalah urusan istrinya sebagai ibu dan permaisuri. Jihad adalah urusan anak-anak yang dilahirkan oleh rahim mulia ke bumi.

Tiba-tiba saya merasakan ngilu yang luar biasa di dalam dada. Di mana letak dan posisi saya di depan kata yang sangat mulia itu, ”Jihad.” Dimana letak dan posisi kita semua dalam di depan kata yang penuh dengan kebesaran itu?

Kita masih terlalu sering mengeluh tentang urusan dunia, bahkan pada hal-hal yang tak penting sama sekali. Tentang macet di jalan yang entah habis sampai kapan. Tentang cuaca yang mudah berubah, sebentar panas, sebenar hujan. Tentang rasa asin yang terlalu pekat dalam makanan. Tentang pundak yang letih karena bermain games atau chatting seharian. Kita mengeluhkan banyak hal yang tak ada kaitannya dengan derajat mulia seorang pejuang.

Padahal, Commander al Khattab, salah seorang pejuang legendaris Chechnya pernah berkata pada kawan-kawan seperjuangannya. ”Hidup adalah perjuangan. Dan perjuangan yang paling mulia adalah perjuangan di jalan Allah SWT. Jangan mati karena urusan dunia,” tandasnya.

Mudah-mudahan dunia tidak menyita waktu dan hidup kita. Dan mudah-mudahan semua yang kita lakukan bernilai jihad dan ibadah. Paling tidak, tidak terhitung sia-sia.

Tapi ketika saya menghibur diri dengan kalimat seperti di atas, saya teringat perkataan salah seorang pejuang yang lainnya. Sayyid Quthb. Tokoh yang dianggap sebagai bapaknya radikalisme dalam Islam ini pernah berucap, ”Kata-kata tidak akan berarti apa-apa. Tidak memiliki ruh dan tenaga. Sampai, yang mengucapkan kata-kata berani memberikan nyawa dan badannya pada kata-kata yang dianggapnya benar sebagai bentuk pelaksanaan perjuangan.”

Sudahkah kita mempertaruhkan seluruh hidup kita untuk kata-kata yang benar? Ini menjadi pertanyaan lain yang harus kita berikan jawaban. Dan itu pula yang diberikan Sayyid Quthb ketika algojo memintanya mengucapkan syahadat sebelum mengakhiri umur di tiang gantungan. ”Kau tahu mengapa aku berdiri di tiang gantungan? Karena aku bulan lagi bersyahadat dengan lidah dan kata-kata. Aku telah bersyahadat dengan hidupku!” Begitu kata Sayyid Quthb lantang, menolak perintah algojo yang memintanya bersyahadat dengan lisan.

Kita, sudah sejauh apa syahadat yang kita ucapkan? Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita, untuk tidak sekadar bersyahadat dengan lisan dan kata-kata, tapi juga dengan jiwa dan raga. Am

Selasa, 26 Januari 2010

Jauhi Maksiat, Karena Menghancurkan Kehidupan

oleh : Ust. Mashadi

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan maksiat sangat berbahaya bagi hati dan pisik di dunia dan akhirat. Maka siapa saja yang masih hidup dengan bergelimang maksiat, hanya akan merusak kehidupannya, dan mencelakakannya di dunia dan akhirat.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan maksiat sangat berbahaya bagi hati dan pisik di dunia dan akhirat. Maka siapa saja yang masih hidup dengan bergelimang maksiat, hanya akan merusak kehidupannya, dan mencelakakannya di dunia dan akhirat. Perbuatan maksiat akan mempunyai pengaruh buruk, seperti :

Pertama, diharamkan memperoleh ilmu, hal ini seperti diungkapkan Imam Malik, yang pernah terkagum-kagum dengan kecerdasan Imam Syafi’i yang masih muda, memiliki ketajaman otak dan kesempurnaan pemahaman terhadap Islam. Saat itu Imam Malik mengatakan, “Aku melihat Allah telah meletakkan cahaya dalam hatimu, karena itu jangan kamu padamkan dengan kegelapan maksiat”, ungkapnya.

Imam Syafi’i, yang alim dan zuhud dalam hidupnya itu, menguntai bait-bait kata, yang menggambarkan pengalaman pribadinya,

“Saya mengadu kepada guru ‘Waqi’ tentang mutu hafalanku yang buruk, Maka ia mengarahkan agar aku meninggalkan maksiat, Ia berkata, “Ketahuilah, ilmu adalah kemuliaan, dan kemuliaan Allah tidak akan diberikan kepada ahli maksiat”, ucapnya.

Kedua, diharamkannya mendapatkan rezeki. Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba diharamkan dari rezeki karena maksiat yang ia kerjakan”. Orang-orang yang maksiat dijauhkan dari rezeki. Karena, ada ahli maksiat mendapatkan rezeki, yang mungkin bisa jadi banyak, tapi ketahuilah rezeki itu, tidak akan pernah mendatangkan keberkahan dalam hidup si ahli maksiat. Justru rezeki yang didapati itu, semakin membuat si ahli maksiat terperosok ke perbuatan durjana dan kekafiran. Sebaliknya, perbuatan ketakwaan kepada Allah mendatangkan rezeki, dan berapapun rezeki yang didapatkan itu akan mendatangkan keberkahan bagi orang yang takwa, dan dapat mengantarkan kemuliaan disisi-Nya.

Ketiga, seorang yang melakukan maksiat akan menemukan perasaan terasing, antara si pelaku maksiat dengan Allah Azza Wa Jalla. Tidak mungkin orang-orang yang telah pekat dengan maksiat dapat taat dan tunduk kepada Allah Robbul Alamin. Ia akan menjadi hamba setan, dan ia akan menjadi terasing. Keterasingan itu tidak akan bisa diganti dengan segala bentuk kenikmatan apapun di dunia ini. Semua jenis kelezatan di dunia disatukan, maka tetap tak akan dapat memberi kepuasan dalam dirinya. Ia akan sangat sengsara dalam hidup. Seorang ahli makrifat mengatakan, “Jika kamu menemukan keterasingan dalam dirinya karena perbuatan dosa, maka segeralah tinggalkan dan jauhi dosa dan maksiat. Tak ada hati merasa tenteram dengan perbuatan dosa.

Keempat, keterasingan bukan hanya antara manusia dengan Allah, tetapi akibat perbuatan dosa dan maksiat itu, yang lebih berat juga akan mengasingkan pelakukanya dengan manusia lainnya terutama mereka yang melakukan kebajikan. Semakin terasa asing perasaan itu, maka semakin jauh hubungan antara mereka. Tidak mungkin orang yang ahli maksiat akan berkkumpul dan berinteraksi dengan orang-orang yang selalu berbuat baik. Seperti minyak dengan air. Orang-orang yang melakukan maksiat dan dosa mendapatkan kutukan dan hukuman, sementara itu orang-orang yang melakukan perbuatan kebajikan akan selalu mendapatkan berkah dan pahala. Orang-orang ahli maksiat akan masuk ke dalam golongan ‘hizbusyaithon’, sedangkan orang-orang yang selalu ta’at dan beramal sholeh sebagai ‘hizbullah’, yang akan mendapatkan jaminan surga.

Kelima, orang yang suka melakukan maksiat dan dosa, hidupnya akan mengalami jalan buntu pada setiap urusannya. Sebagaimana orang-orang yang bertaqwa akan dimudahkan oleh Allah dalam segala urusannya. Bagaimana akan dapat menemukan pintu—pintu kebaikan, sementara dirinya menutup dengan perbuatan maksiat dan dosa,sehingga semua kemaslahatan menutup pintu terhadap dirinya.

Keenam, perbuatan maksiat dan dosa akan menimbulkan kegelapan hati. Kegelapan itu benar-benar nyata dalam hatinya, seperti melihat dan merasakan gelapnya malam. Hal ini karena sesungguhnya, ketaatan itu cahaya, sedangkan kemasiatan dan dosa itu kegelapan. Semakin banyak maksiat yang dilakukan, maka akan semakin gelap hati orang itu. Akibatnya, orang-orang yang mengerjakan maksiat dan dosa itu, pasti akan jatuh ke dalam kekafiran, karena hatinya sudah terhijab (tertutup) oleh kemaksiaan, dan kebenaran (al-haq) tidak mungkin lagi dapat menyentuh hatinya.

Ketujuh, perbuatan maksiat dan dosa itu, juga akan melemahkan kekuatan hati. Orang yang banyak maksiat akan kehilangan iradah (kehendak) dan azzam (tekad) yang kuat, karena hatinya yang gelap akibat dosa itu, tak mungkin memiliki motivasi yang kuat. Orang yang banyak maksiat berefek kelemahan fisik, karena hatinya yang lemah. Tapi, ada juga orang yang fasik (ahli maksiat), kelihatan fisiknya yang kuat, tetapi hakekatnya sangat lemah. Tidak akan memiliki saja’ah (keberanian), menanggung beban hidup. Seperti sudah dikisahkan dalam perang Salib, bagaimana orang-orang Romawi yang kelihatan pisiknya sangat kuat, tetapi dengan mudah dikalahkan orang-orang mukmin. Kedelapan, orang yang melakukan maksiat itu, pasti akan kehilangan wala’ (loyalitas) dan keta’atan kepada Allah Azza Wa Jalla. Perbuatan dosa dan maksiat itu, membuat mereka tak dapat berhubungan dengan Allah yang Mahasuci, dan menyebabkan terjauhkan dari hubungan dengan Allah Rabbul Alamin. Karena itu, orang-orang yang sudah terbelenggu dengan segala bentuk dosa dan maksiat, hidupnya pastti selalu ingkar kepada Allah Azza Wa Jalla.

Kesembilan, orang-orang yang hobinya berbuat maksiat, menyebabkan pendek umur.Risiko ini tak dapat lagi dihindari. Orang-orang yang gemar minum, berzina, dan melakukan segala bentuk perbuatan maksiat, akibatnya hanya akan memperpendek umurnya. Kalau diberi umur yang panjang, tetapi hidup akan selalu tidak berkah, dan akan dihadapkan dengan segala bentuk malapetaka, karena semuanya itu dari akibat perbuatan yang menumpuk-numpuk dosa dan maksiat.

Sesungguhnya, rezeki, kematian, kebahagian, kesengsaraan, kesehatan, sakit, kekayaan, dan kefakiran, semua itu sudah menjadi takdir. Tapi Allah menjadikannya sebab kematian yang diakibatkan oleh perbuatan manusia. Jadi takdir itu memang sebuah kemestian, tetapi Allah Rabbul Aziz memberikan hak kepada manusia untuk melakukan ikhtiar. “Berhala-hala itu benda mati, tidak bisa hidup”. (An-Nahl : 21).

Manusia dikatakan hidup, bila hatinya masih hidup. Hati yang penuh dengan dosa dan maksiat akan mati, tidak dapat istijabah (menerima) kebaikan dan petunjuk dari Allah Ta’ala. Umur itu hanya rentang kehidupan manusia, yang bisa panjang dan pendek, semuanya Allah Azza Wa Jalla, yang menentukannya.

Tetapi, betapa celakanya, bila manusia memiliki rentang umur yang panjang, dan umurnya itu hanya digunakan untuk berbuat maksiat dan dosa, dan berpaling dari Allah, maka sesugguhnya manusia telah kehilangan hari-hari dari kehidupannya secara hakiki. “Ia mengatakan, Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) dalam hidupku ini”. (Al-Fajr : 24).

Begitulah nasehat Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dalam kitabnya Al-Jawabu Kafi, agar manusia menjauhi dosa dan maksiat, karena perbuatan itu akan mencelakakan manusia di dunia dan akhirat. Wallahu’alam.


sumber : Eramuslim



Minggu, 25 Oktober 2009

Indahnya malam pertama ( Pernikahan Terakhir....)

Bacalah atas nama Tuhanmu.....

bismillahirrohmannirrohiim
.....

alangkah indahnya apabila di bulan yang penuh berkah ini Allah mencabut nyawa kita, di saat kita sedang menundukkan syahwat kita, saat kita sedang mengekspresikan cinta kita kepadaNya,,nikmat rasanya apbila nyawa kita dicabut saat itu juga.........menuju ke pernikahan terakhir kita..

wahai saudaraku....yg aku cintai karena ALLAH..

di bawah ini ada sebuah tulisan tentang perenungan,,aku persembahkan buat mereka yang merindukan kematian,,buat para ikhwan yang tidak sabar ingin menemui bidadarinya di surga sana,,,dan untuk menuju ke arah sana, ALLAH telah menyiapkan pernikahan buat kita,,pernikahan terakhir kita...

insya Allah seperti inilah kronologi pernikahan terakhir yang ALLAH siapkan buat kita....



Satu hal sebagai bahan renungan Kita…
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa

Justeru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Mauuut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu…mempelai sangat dimanjakan
Mandipun…harus dimandikan
Seluruh badan kita terbuka….
Tak ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak ada sedikitpun rasa malu…
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang-lubang itupun ditutupi kapas putih…
Itulah sosok kita….
Itulah jasad kita waktu itu

Setelah dimandikan.. .,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu…jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju kita…
Bagian kepala…badan…dan kaki diikatkan
Tataplah….tataplah….itulah wajah kita
Keranda pelaminan…langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian…

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin…
Berwalikan liang lahat..
Saksi-saksinya nisan-nisan…yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar…pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya….. Tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian…
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi….
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat…
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur…
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur…..
Kita tak tahu…Dan tak seorangpun yang tahu….
Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan… .
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata…
Seolah barang berharga yang sangat mahal…

Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga…
Tapi….tapi …..sudah pantaskah sikap kita selama ini…
Untuk disebut sebagai ahli syurga
HuhHuhHuh

Sahabat…mohon maaf…jika malam itu aku tak menemanimu
Bukan aku tak setia… Bukan aku berkhianat.. ..
Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan
Tapi percayalah…aku pasti kan mendo’akanmu. ..
Karena…aku sungguh menyayangimu. ..
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga
Aku berdo’a…semoga kau jadi ahli syurga. Amien
Sahabat…, jika ini adalah bacaan terakhirmu
Jika ini adalah renungan peringatan
dari Kekasihmu
Ambillah hikmahnya……
Tapi jika ini adalah salahku…maafkan aku….
Terlebih jika aku harus mendahuluimu. ….
Ikhlaskan dan maafkan seluruh khilafku
Yang pasti pernah menyakiti atau mengecewakanmu. …..

Kalau tulisan ini ada manfaatnya.. ..
Silakan di print out dan kau simpan sebagai renungan…
Siapa tahu…suatu saat kau ingat padaku
Dan…aku tlah di alam lain….
Satu pintaku padamu…
Tolong do’akan aku….

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
(QS 103:1-3)

jazakallah kepada seorang teman yang telah mengirimkan tulisan ini,,,,,

insya Allah aku pun merindukan pernikahan terakhir itu....

Aqil El Banna

Generasi Terbaik

ketika selesai kubaca kalam ilahi ini, kucium dengan penuh takhzim, penuh penghormatan. lalu kuletakkan Qur'an syamil itu di atas meja belajarku. kutatap Qur'an itu cukup lama, tiba-tiba terbetik sebuah pertanyaan di dalam pikiranku, " bagaiman ya Qur'an ini bisa melahirkan generasi terbaik terdahulu?" lalu aku teringat akan sosok abu bakar, umar, utsman, ali, bilal, muadz bin jabal, mushab, ibn mas'ud, dan banyak lagi mutiara yang lahir dari sentuhan Al- Qur'an.
Dahulu di bumi ini pernah lahir generasi terbaik manusia, generasi umat ini. Mereka adalah orang- orang yang hidup di tengah- tengah Rasulullah. dan mereka adalah orang- orang yang pertama kali menyambut seruan Rasulullah, seruan yang telah mengubah wajah arab dari kejahiliaan menuju kepada kemuliaan. bagaimana sejarah telah mencatat orang- orang tersebut telah berhasil menaklukan peradaban dunia, dimana saat itu telah ada peradaban- peradaban besar yang sudah terlebih dahulu hadir, seperti Romawi, persia, dan Yunani. namun peradaban- peradaban itu seakan tidak mampu mengungguli peradaban yang dibawa para generasi terbaik itu, peradaban islam. sekali lagi aku bertanya, " bagaiman ya Qur'an ini bisa melahirkan generasi terbaik terdahulu?". tentunya gemelinganitu tidak lahir begitu saja, ada sesuatu di balik itu semua. sesuatu yang telah melahirkan sekelompok manusia mulia, yang melahirkan sosok seperti abu bakar, umar, utsman, ali, mushab, bilal, dan yang lainnya. dan sesuatu dibalik itu semua sudah pasti adalah Al- Qur'an. ya, kita suci itulah yang telah membentuk mereka. lalu pertanyaannya, kenapa generasi umat ini jauh dari sosok- sosok generasi terbaik itu. bahkan umat saat ini berada dalam kondisi yang memprihatinkan, penuh dengan kehinaan, kdzoliman, dan fitnah yang diterima umat ini. apakah mereka lupa bahwa dari umat ini pernah lahir generasi terbaik yang telah menaklukan peradaban dunia...padahal sumber kemulian itu masih ada di tengah- tengah kita, masih murni dan orisinil, tidak ada yang berubah sedikit pun, karena Allah menjamin kemurnian tersebut. trus kenapa umat seperti ini???..
mungkin pertanyaan itu patut kita renungkan, bagaimana sikap kita terhadapp sumber kemuliaan tersebut( Al Qur'an),,, tanyakan pertanyaan itu dalam hati kita, apakah Al-Qur'an itu sudah menjadi sesuatu yang berarti buat kita????

Sabtu, 24 Oktober 2009

Sepenggal Tentang Keimanan

Keimanan itu ternyata harus dijaga. Dia tidak boleh dibiarkan begitu saja, harus ada upayah kita untuk menjaga keimanan itu. karena keimanan itu bisa saja berubah. tergantung bagaimana cara kita memperlakukannya. apabila iman itu kita biarkan tak terurus, tak ada upaya untuk kita merawatnya. maka iman itu akan menjadi gersang...
Apabila iman kita sudah gersang maka sudah tidak ada lagi kenikmatan dalam beragama, hilang sudah kenikmatan kita dalam beribadah, hambar sudah amal yang kita lakukan, dan hilang semua ketakutan kita terhadap dosa. awalnya menganggap enteng dosa, terutama dosa- dosa kecil, lama- lama terbiasa dengan dosa itu..dan akhirnya kita memilih hidup bersama dosa-dosa itu.
Iman itu sifatnya fluktuatif, dia bisa bertambah dengan ketaatan dan dapat merosot tajam dengan kemaksiatan, kelalaian, dan sifat ketidak pedulian kita terhadap dosa. Jadi iman itu tidak hanya sebatas pengakuan lisan saja, dia juga harus diimplementasikan oleh perbuatan kita. Dan iman itu harus dijaga, dirawat, diurus, dan diperhatikan keadaannya. setiap waktu. jangan sampe kita cuek terhadap kondisi keimanan kita, karena iman adalah sesuatu yang berharga bagi diri kita..